Jumat, 19 Oktober 2012

H O T S


HOTS
Higher Order Thinking Skills
Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi


Berpikir merupakan suatu upaya kompleks dan reflektif dan juga pengalaman kreatif. Berpikir merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran siswa. Kemampuan berpikir ini dimungkinkan untuk berkembang karena manusia memiliki rasa ingin tahu yang selalu terus berkembang. Ini memiliki arti bahwa keterampilan berpikir setiap orang akan selalu berkembang dan dapat dipelajari. Sehingga salah satu kecakapan hidup (life skill) yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan adalah keterampilan berpikir.

Berpikir, menurut Taylor, merupakan proses penarikan kesimpulan. Menurut Edward de Bono, berpikir merupakan suatu proses kompleks kompleks yang berlaku dalam pikiran seseorang apabila orang itu menceritakan pengalamannya secara terperinci untuk mencapai sesuatu tujuan. Menurut Ruch, berpikir itu sendiri merupakan manipulasi atau organisasi unsur lingkungan dengan menggunakan lambang sehingga tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang tampak. Berpikir merujuk pada pelbagai aktivitas yang melibatkan penggunaan lambang dan konsep, sebagai pengganti objek dan peristiwa.
Secara umum, terdapat empat tingkat berpikir, yaitu :


  1.  Recall Thinking (menghafal), merupakan tingkat berpikir paling rendah yang terdiri atas keterampilan hampir otomatis atau refleksif.
  2. Basic thinking (dasar), merupakan keterampilan dasar yang meliputi memahami konsep-konsep seperti penjumlahan, perkalian, dan sebagainya termasuk aplikasinya dalam soal-soal.
  3. Critical thinking (berpikir kritis), merupakan berpikir yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek.
  4. Creatif thinking (berpikir kreatif), merupakan kegiatan menyatukan ide, mencipta ide baru, dan mampu menentukan keefektifannya.
Terdapat perbedaan proses pembelajaran sebelum abad 21 dan setelahnya. Berikut ini adalah beberapa perbedaan yang menonjol dari 2 kondisi tersebut :

Sebelum abad 21
Tuntutan pembelajaran setelah abad 21
·    Berpusat pada guru
·    Pembelajaran langsung
·    Menekankan Pengetahuan
·    Berorientasi pada Isi/materi
·    Berkaitan dengan Ketrampilan dasar
·    Penekanan  pada Teori
·    Akademik
·    Individual
·    Berlangsung di Ruang kelas
·    Penilaian sumatif
·    Belajar demi sekolah
·   Berpusat pada siswa
·   Pembelajaran kolaboratif
·   Menekankan ketrampilan
·   Berorientasi pada proses
·   Berpikir tingkat tinggi
·   Menekankan Praktik
·   Life Skills
·   Kelompok
·   Berlangsung dalam komunitas
·   Penilaian formatif
·   Belajar demi hidup

Tingkat  kemampuan berpikir menurut Bloom (Anderson dan Krat-hohl, 2001) dengan mengelompokkan proses yang digunakan siswa untuk memperoleh pengetahuan terdiri atas dimensi pengetahuan dan proses. Dimensi pengetahuan mencakup pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan pengetahuan metakognitif. Proses terdiri atas kategori mengingat, memahami, aplikasikan, analisis, evaluasi, dan menciptakan.

Dari keenam proses kognitif menurut Bloom yang terkenal dengan nama Bloom’s Taxonomy, Analisis, evaluasi dan menciptakan merupakan tingkat berpikir yang lebih tinggi dibandingkan dengan tiga proses lainnya.  Kemampuan berikir tingkat tinggi (higher order thinking skills) termasuk di dalamnya berpikir kritis, logis, kreatif, reflektif, dan metakognitif (FJ King, Ludwika, Faranak Rohani).
Berpikir kritis, menurut Ennis, adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pada pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan.

Menurut Paul dan Elder (2006), berpikir kritis menunjukkan beberapa karakter :
  • Skeptis (skeptycal)
  • Aktif, tidak pasif. Selalu bertanya dan menganalisis. Dan mampu mengkomunikasikan argumen.
  • Tidak egois, terbuka terhadap ide dan hal-hal baru dan memiliki keinginan untuk saling adu argumen.
Menurut Coleman & Hammen (1974) berpikir kreatif merupakan cara berpikir yang menghasilkan sesuatu yang baru dalam bentuk konsep, penemuan maupun karya seni. Salah satu cara untuk mengembangkan dan menguatkan kemampuan kita untuk berpikir kreatif adalah percaya bahwa sesuatu itu dapat dilakukan. Sehingga akan muncul adanya suatu dorongan untuk menggerakkan pikiran untuk mencari dan melaksanakan sesuatu yang diinginkan.

Menurut de Bono dan Perkins, ciri-ciri orang yang berpikir kreatif antara lain memiliki ide atau gagasan-gagasan baru, berani tampil beda atau melawan arus, memunculkan pemikiran yang tidak atau belum popular, optimistik,  tidak takut mencoba, tidak takut gagal, berani menanggung resiko
Kemampuan berpikir untuk menilai kemampuan sendiri disebut dengan metakognisi. Metakognisi meliputi kesadaran proses berpikir seseorang, self-monitoring, dan penerapan pengetahuan dan langkah-langkah untuk berpikir.

Bagaimana mengembangkan HOTS? Dalam presentasinya, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama memberikan beberapa strategi pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, yaitu: 
  • Membuat peta konseP
  • Mengajukan pertanyaan
  • Menyusun buku harian/jurnal pembelajaran
  • Pembelajaran kolaboratif berbasis TI
  • Menggunakan analogi
  • Eksperimen berbasis inkuiri
  • Metode proyek
  • Latihan –latihan membuat keputusan
  • Pemecahan masalah

Sebagai contoh, akan dicoba membahas salah satu Standar Kompetensi pada kelas X, yaitu memecahkan masalah yang berkaitan dengan bentuk pangkat, akar, dan logaritma. Sesuai dengan Bloom’s Taxonomy, maka kegiatan mengingat dapat berupa mengingat kembali beberapa konsep dasar tentang perkalian. Misal 2 x 2 x 2 = 8. 
Pada ranah kognitif selanjutnya, yaitu memahami, dapat memberikan konsep kepada siswa tentang konsep perkalian. Misal adalah bentuk pangkat berbentuk ab=c. Dalam bentuk bilangan seperti 23=8. Dan juga implikasi yang ditimbulkan yang menjadi sifat-sifat dari operasi bilangan berpangkat. Selanjutnya pada ranah kognitif menerapkan. Dengan memberi soal yang kontekstual dan diselesaikan menggunakan pengetahuan yang sudah didapatkan. Misal aplikasinya dalam bidang biologi, Jika amuba dapat membelah diri menjadi 2 dalam 15 menit, terdapat berapa amuba saat 1 jam kedepan?

Selanjutnya, yang termasuk dalam HOTS berdasarkan Bloom’s Taxonomy, yaitu menganalisis, mengevaluasi dan membuat. Contoh untuk ranah menganalisis, dengan memberikan pertanyaan seperti bagaimana jika amuba dapat membelah diri menjadi 3 dalam waktu 15 menit, terdapat berapa amubakah saat 1 jam berikutnya? 
Hal ini telah merangsang siswa untuk berpikir lebih dalam, menganalisis dengan menggunakan pengetahuan sebelumnya. Biarkan mereka mencari dengan caranya sendiri, dan tentunya mereka dapat membandingkan dengan soal sebelumnya. Pertanyaan ini telah melatih siswa untuk berpikir kritis.

Kita misalkan dalam sebuah bisnis MLM, diperkirakan dalam waktu satu bulan, si A dapat menemukan 3 anggota baru. Apakah benar dalam waktu 1 tahun si A bisa memperoleh anggota sebanyak 100 orang? Siswa dapat membandingkan soal ini dengan soal sebelumnya dan dengan menjawab pertanyaan ini, siswa telah diajak untuk mengevaluasi suatu masalah. Apakah pernyataan di atas benar atau salah? Dan mengapa benar jika mereka menjawab benar atau mengapa salah jika mereka menjawab salah, juga merupakan pertanyaan lanjutan yang mengajak siswa berpikir kritis dan kreatif. Dan ini juga merupakan solusi untuk melatih siswa untuk memecahkan masalah berdasarkan hal-hal yang kontekstual.
Berpikir tingkat tinggi dimulai dengan bertanya. Maka siswa harus dibiasakan untuk memiliki kemampuan bertanya, dan paham dengan masalah yang ada.


Referensi
-          Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Higher Order Thinking Skills.ppt, 2011
-          King, FJ., Gudson, Ludwika., Rohani, Faranak. Higher Order Thinking Skills, Assessment and Evaluation Educational Service Program.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar