Home » All posts
Teori Jaringan
Sebuah
Pendekatan untuk Memanfaatkan Keragaman Pendekatan Teoritis
Sriraman, Bharath dan
English, Lyn, 2010, Theories of Mathematics Education, London : Springer Heidelberg
Dordrecht
Pendahuluan
Teori adalah bahan penting pada
setiap studi penelitian pendidikan matematika. Salah satu peran dari teori
adalah untuk memberikan kerangka kerja pada studi penelitianyang datanya
dapat diinterpretasikan dan argumen dari
data tersebut bisa menjadi kesimpulan. Tanpa kerangka teori, interpretasi data
menjadi sembarangan dan akan sulit untuk membuat argumen apalagi untuk diikuti.
Para peneliti dan kelompok
penelitian mengembangkan teori yang sesuai dengan tujuan mereka, ini tidak
hanya menyebabkan keragaman teori, tetapi juga keragaman dari landasan teori,
dan keragaman cara untuk membangun/mengemangkan teori. Sebagai akibatnya, sejumlah
besar teori dengan beragam karakteristik
yang ada dan sedang digunakan, yang lebih global seperti Teori Situasi Didaktik
(TDS; Brousseau,1997) dan lebih lokal yang seperti Abstraksi dalam Konteks
(Schwarz et al 2009);. Beberapa
dikembangkan dengan tujuan eksplisit menjadi dasar teori untuk domain pembelajaran dan mengajar matematika, seperti TDS, dan beberapa lainnya merupakan suatu filosofi pedidikan matematika, seperti Pendidikan Matematika Realistik (Gravemeijer 1994). Memang, tampak bahwa banyak peneliti cenderung memilih mengembangkan kerangka kerja mereka sendiri ketimbang membaca, belajar, memahami, mengadopsi, mengadaptasi dan menerapkan yang sudah ada yang dikembangkan oleh orang lain. Hal ini telah menyebabkan sejumlah teori (Lerman 2006), dan kita mungkin bertanya mengapa situasi ini terjadi dan bagaimana kemajemukan ini dapat berhasil melalui interaksi antara komponen yang berbeda.
dikembangkan dengan tujuan eksplisit menjadi dasar teori untuk domain pembelajaran dan mengajar matematika, seperti TDS, dan beberapa lainnya merupakan suatu filosofi pedidikan matematika, seperti Pendidikan Matematika Realistik (Gravemeijer 1994). Memang, tampak bahwa banyak peneliti cenderung memilih mengembangkan kerangka kerja mereka sendiri ketimbang membaca, belajar, memahami, mengadopsi, mengadaptasi dan menerapkan yang sudah ada yang dikembangkan oleh orang lain. Hal ini telah menyebabkan sejumlah teori (Lerman 2006), dan kita mungkin bertanya mengapa situasi ini terjadi dan bagaimana kemajemukan ini dapat berhasil melalui interaksi antara komponen yang berbeda.
Jaringan Teori-teori - Sebuah
Pendekatan untuk Memanfaatkan Keragaman Pendekatan Teoritis
Angelika Bikner-Ahsbahs
dan Susanne Prediger
Secara internasional, penelitian pendidikan matematika dibentuk oleh keragaman teori-teori.
Kontribusi ini menunjukkan suatu pendekatan untuk memanfaatkan keragaman
ini sebagai sumber untuk kekayaan yang kita sebut Jaringan
Teori. Untuk
dapat mencakup semua perbedaan yang ada, pendekatan ini didasarkan pada pemahaman yang toleran dan dinamis dari teori yang mengkonsepkan
teori-teori pada kerangka dan hasil dari penelitian.
Dengan artikel ini, kami ingin berkontribusi pada "Diskusi
tentang peran penting dari teori-teori untuk masa depan Pendidikan
Matematika" (ibid, hal 451).
Teori-teori dalam pendidikan matematika berevolusi secara independen di berbagai
daerah dunia dan keadaan budaya
yang berbeda, termasuk tradisi budaya dalam kelas
khusus, nilai-nilai yang ada, juga manajemen kelembagaan yang bervariasi. Ini merupakan sumber penting untuk eksistensi keragaman
pendekatan teoritis yang ada.
Alasan kedua untuk eksistensi dari teori-teori
yang berbeda itu dan juga pendekatan teoritisnya adalah kompleksitas dari topik
penelitian itu sendiri. Karena pendidikan dan pembelajaran matematika adalah
sebuah fenomena dalam kelas yang tidak dapat digambarkan, dipahami atau
dijelaskan oleh satu teori monolitik saja, berbagai teori diperlukan agar dapat
berbuat secara adil dalam menghadapi kompleksitas masalah di lapangan/kelas.
Dalam rangka untuk mendukung klaim
keragaman sebagai sumber daya untuk perkembangan ilmiah, artikel ini mencoba
untuk memperjelas pemahaman yang mendasari teori dan menawarkan beberapa
kategori bagaimana mereka dapat dibedakan. Posisi terhadap keanekaragaman kemudian
dijabarkan dalam bagian ‘Strategi untuk Menghubungkan Teori-Menggambarkan suatu
Persepektif ', sebagai dasar untuk membahas strategi yang berbeda untuk
menghubungkan perspektif, pendekatan dan teori.
Apa itu Teori, dan untuk Apa Dibutuhkan?
Apakah kita yakin bahwa kita
berbicara tentang hal yang sama ketika kita menggunakan istilah 'teori' atau 'pendekatan
Teoritis’? Tidak ada definisi unik bersama antara teori dan pendekatan teoritis
oleh para peneliti pendidikan matematika (lihat Assude et al 2008.). Keragaman
yang besar sudah dimulai dengan heterogennya kerangka teoritis atau teori oleh
peneliti yang berbeda dan tradisi ilmiah yang berbeda pula. Beberapa merujuk pada
paradigma-paradigma penelitian yg bersifat dasar (seperti pendekatan
interpretatif dalam interaksi sosial), beberapa membahas teori umum secara
menyeluruh (seperti teori pembelajaran) dan beberapa juga membahas cara atau
model yang bersifat lokal (misal siklus pemodelan). Perbedaan bukan hanya dari cara
untuk mengkonsep, bertanya dalam matematika, proses pembelajaran dan hasil pembelajaran
yang mereka dapatkan, tetapi juga lingkup dan latar belakang mereka.
Cara pandang Statik dan Dinamis pada Teori
Mason dan Waywood membedakan antara perbedaan
karakter dari teori:
-
teori foreground
adalah teori-teori lokal dalam pendidikan matematika, misal "tentang apa
yang dilakukan dan dapat terjadi di dalam dan di luar lembaga pendidikan”.
"(Mason dan Waywood 1996, h. 1056).
-
Sebaliknya,
teori background adalah (kebanyakan) teori yg membahas filosofi dari atau
tentang pendidikan matematika, misal "memainkan peran penting dalam pencerdasan
dan mendefinisikan apa jenis objek yang
akan dipelajari, dan memang, teori konstruksi akan banyak digunakan" (Mason
dan Waywood 1996, h. 1058). Teori background dapat terdiri dari bagian-bagian
implisit yang merujuk pada ide-ide tentang pengetahuan atau metodologi misalnya
ide-ide tentang sifat dan tujuan pendidikan, sifat-sifat matematika dan
pendidikan matematika.
Teori foreground dan background menawarkan
relatifitas, fleksibel, bukan perbedaan yang mutlak, mereka dapat membantu
untuk mengklasifikasikan pandangan yang berbeda tentang teori.
Keragaman karakteristik dari 'teori'
tidak hanya dapat dibedakan menurut fokus pada teori foreground atau background,
tetapi juga menurut pandangan umum tentang 'teori'. Untuk alasan analitis, dapat
dibedakan menjadi :
-
Cara pandang Statik, yang menganggap teori sebagai konstruksi manusia
untuk menampilkan, mengatur dan mengsistemasi hasil-hasil dari bagian kecil, yang
kemudian menjadi alat yang akan digunakan. Dalam hal ini teori ada untuk
menjadikan sesuatu lebih masuk akal dalam beberapa jenis dan cara.
-
Dan, cara pandang dinamis, yang menganggap
teori sebagai alat yang digunakan berakar pada beberapa jenis latar belakang
filosofis yang harus dikembangkan dengan berbagai cara yang cocok dalam rangka
untuk menjawab pertanyaan spesifik tentang objek. Dalam hal ini gagasan dari teori
tertanam pada pekerjaan dari peneliti. Hal ini belum siap untuk digunakan, teori
harus dikembangkan dalam rangka untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Dalam
konteks ini, istilah ‘Pendekatan teoritis' kadang digunakan sebagai 'teori'.
Fungsi Teori untuk Penelitian
Ketika Maier dan Beck menunjukkan
bahwa fungsi dari menggunakan teori adalah untuk menstrukturisasi persepsi dari
lingkup penelitian dengan cara dasar, mereka jg menemukan deskripsi dari Mason dan
Waywood tentang fungsi teori untuk praktek penelitian: "memahami peran teori
dalam program penelitian adalah memahami hal apa yang bisa dipertanyakan dan
apa yang merupakan jawaban untuk pertanyaan itu". (Mason dan Waywood 1996,
hal 1056).
Silver dan Herbst (2007) juga melakukan
pendekatan gagasan tentang teori dalam pendidikan matematika dalam cara yang
dinamis. Membandingkan teori yang berbeda, sehubungan dengan peran mereka sebagai
instrumen mediasi antara masalah, praktek dan penelitian, menunjukkan bahwa teori-teori
dalam pendidikan matematika sebagian besar dikembangkan untuk tujuan tertentu.
Misalnya,
·
teori-teori yang memediasi praktek pembelajaran dan penelitian dapat dipahami sebagai "bahasa deskripsi dari
suatu praktik pembelajaran" atau sebagai "sistem pembelajaran terbaik", ...(ibid., hal 56)
·
teori-teori yang memediasi masalah dan
penelitian dapat dipahami sebagai "solusi untuk sebuah problem” atau "alat atau media
yang membantu pembelajaran", ...(ibid.,
hal 56)
·
teori-teori yang menengahi penelitian dan masalah dapat dipahami sebagai "sarana untuk mengubah masalah sehari-hari menjadi masalah
yang dapat diteliti" atau sebagai "lensa
untuk menganalisis data dan hasil
penelitian suatu masalah ",. . . (ibid., hal 50)
Beberapa teori digunakan untuk menginvestigasi
fakta dan fenomena dalam pendidikan matematika; yang lain menyediakan alat
untuk desain, bahasa untuk mengamati, memahami, menggambarkan dan bahkan menjelaskan
atau memprediksi fenomena.
Ada 5 aspek teori yang membangun
sebuah penelitian yaitu : tujuan / sasaran, obyek, metode, situasi (4 aspek ini
oleh Mason dan Waywood (1996)), dan aspek pertanyaan yang relevan, karena kita
tahu dari penelitian pendidikan tinggi dan penelitian komparatif tentang budaya
ilmiah, pertanyaan-pertanyaan yang dianggap relevan membentuk bagian penting
dari budaya ilmiah dari setiap kelompok penelitian (lih. Arnold dan Fischer
2004).
Kelima aspek penelitian teori ini membimbing
dan membantu untuk menggambarkan lebih tepat bagaimana praktek penelitian,
teori latar belakang dan basis filosofisnya.
Keanekaragaman sebagai Tantangan,
Referensi, dan Titik Awal Pengembangan lebih lanjut
Setiap wacana
tentang keragaman teori dibentuk oleh pertanyaan, mengapa teori pasar sangat
beragam.
Salah satu
penjelasan yang masuk akal untuk keberadaan berbagai teori pembelajaran
matematika adalah divergen/bias, perspektif pengetahuan tentang apa yang
merupakan pengetahuan matematika. Penjelasan lain yang mungkin adalah bahwa
pendidikan matematika, tidak seperti ilmu murni dalam ilmu pengetahuan, pendidikan
matematika sangat dipengaruhi oleh kekuatan budaya, sosial, dan politik.
(Sriraman dan English, 2005, h. 452).
Keragaman
teori-teori dan pendekatan teoritis harus dianggap sebagai tantangan, dengan
alasan yang berbeda:
·
tantangan untuk
komunikasi: "Peneliti dari kerangka teoritis yang berbeda kadang-kadang mengalami kesulitan memahami satu sama lain secara mendalam karena latar belakang yang berbeda, bahasa dan asumsi implisit "(Arzarello et al 2008a.);
·
tantangan untuk kesatuan hasil empiris: "Peneliti dengan perspektif teoretis yang berbeda menganggap fenomena empiris dari perspektif yang berbeda dan, karenanya, menjadikan hasil yang berbeda
dalam studi
empiris
mereka. Bagaimana hasil dari studi yang berbeda diintegrasikan atau setidaknya dipahami dalam perbedaan mereka "(ibid.)?;
·
tantangan untuk
kemajuan ilmiah: "Mengembangkan kelas matematika sebagian bergantung pada kemungkinan kemajuan jangka panjang bersama dalam penelitian pendidikan matematika di mana studi dan konsepsi untuk sekolah membangun penelitian empiris. Tapi bagaimana melakukannya
ketika studi masing-masing menggunakan kerangka teoritis yang berbeda yang tidak dapat dihubungkan
kepada orang lain?
Kemajemukan hanya
dapat bermanfaat, ketika pendekatan dan tradisi yang berbeda saling berinteraksi.
Untuk memenuhi tantangan ini, keragaman teori dan pendekatan teoritis harus dimanfaatkan
secara aktif dengan menghubungkan atau
menggabungkan strategi. Menghubungkan teori-teori dan pendekatan teoritis dapat
menjadi titik awal untuk pengembangan lebih lanjut dapat dilakukan dengan 3
cara:
·
mengembangkan
studi empiris yang memungkinkan menghubungkan pendekatan teoritis dalam
rangka untuk memperoleh kekuatan penjelas, deskriptif;
·
mengembangkan teori menjadi kelompok teori yang lebih besar untuk mengurangi jumlah teori sebanyak mungkin (tetapi jangan berlebihan!) dan untuk memperjelas kekuatan dan kelemahan teori;
·
membangun wacana tentang pengembangan teori, pada teori dan kualitasnya, terutama untuk penelitian dalam pendidikan matematika.
STRATEGI UNTUK MENGHUBUNGKAN
TEORI
A. Memahami Yang Lain
dan Membuat Teori Sendiri dapat Dipahami
Setiap
konferensi internasional dengan peneliti dari berbagai teori dan budaya latar
belakang memberikan pengalaman yang tidak sepele untuk memahami teori-teori
yang telah dikembangkan dalam praktek penelitian yang berbeda dengan budaya
sendiri.
Oleh karena
itu, semua
komunikasi antar-teori dan terutama semua upaya untuk menghubungkan dan
menerapkan teori-teori dan hasil penelitian harus dimulai dengan memahami orang
lain dan, sebaliknya, dengan membuat teori sendiri dapat dimengerti oleh orang
lain.
B. Membandingkan dan Membedakan
Membandingkan dan membedakan hanya berbeda secara levelnya, tetapi tidak dalam
substansi. Membadingkan mengacu pada persamaan dan perbedaan secara umum dalam
memahami komponen teoritis, membedakan
lebih difokuskan pada penggalian perbedaan yang khas. Dengan membedakan, spesifisitas teori dan kemungkinan
hubungan antar mereka dapat lebih terlihat: kesamaan yang kuat adalah poin
untuk menghubungkan dan perbedaan yang kuat dapat membuat kekuatan
individual dari teori terlihat.
Sebuah
perbandingan dapat didorong oleh tujuan yang berbeda. Pertama dan paling
penting adalah bertujuan untuk menyediakan dasar untuk komunikasi antar-teori. Kedua,
membandingkan dan membedakan dapat digunakan sebagai
strategi persaingan di komunitas dan pendekatan teoritis. Dan ketiga, membandingkan dan membedakan mungkin menawarkan rasional dasar untuk pilihan dari
teori-teori yang ada dan meningkatkan perdebatan ke level-meta di mana kita
diwajibkan untuk memberikan alasan yang baik untuk pilihan teoritis kita
"(Cobb 2007, hal 28).
Perbandingan
tidak bisa netral, karena setiap kriteria yang berlaku sudah sarat nilai.
C. Koordinasi
dan Penggabungan
Strategi membandingkan dan membedakan sebagian besar digunakan untuk pemahaman yang lebih baik dari karakteristik khas dari teori-teori dan
pendekatan teoritis dalam sudut pandang
pengembangan teori lebih
lanjut, sedangkan strategi
koordinasi dan penggabungan sebagian besar digunakan untuk memahami jaringan dari sebuah fenomena empiris atau
bagian dari data.
Perbedaan antara teori,
kerangka kerja praktis dan konsepnya, Eisenhart (1991) menyatakan bahwa banyak penyelidikan empiris praktis
yang relevan tidak dapat ditarik dengan satu pendekatan teoritis tunggal saja
tetapi bergantung pada berbagai sumber konsep dan ide yang sesuai. Sumber-sumber ini kemudian
dikombinasikan yang disebut kerangka konseptual.
Strategi
jaringan penggabungan dan koordinasi
yang khas untuk kerangka konseptual yang tidak selalu bertujuan pada teori yang
lengkap dan
koheren tetapi pada menggunakan alat-alat analisis yang berbeda demi masalah praktis
atau analisis suatu fenomena empiris (lihat Cerulli et al 2008.; Maracci 2008). Dalam proyek-proyek
lain, teori-teori yang lebih komprehensif digabungkan
atau bahkan dikoordinasikan
setidaknya secara lokal (seperti Teori Antropologi dari Didaktik-ATD-pendek dan
APC-Space di Arzarello et al. 2008b).
D. Mensintesis dan
Mengintegrasikan
Pada strategi penggabungan dan koordinasi bertujuan memperdalam wawasan suatu fenomena empiris, strategi
mensintesis dan mengintegrasikan secara khusus
difokuskan pada pengembangan teori dengan menempatkan bersama-sama sejumlah
teori atau pendekatan teoritis menjadi kerangka kerja baru.
Sekali lagi,
kami membuat perbedaan tingkatan antara dua strategi terkait, dan yang saat ini
mengacu pada tahap keseimangan dari pendekatan teoritis yang terlibat. Gagasan
sintesis digunakan ketika dua atau lebih teori yang sama-sama stabil diambil dan
dihubungkan sedemikian rupa sehingga berkembang
teori baru. Namun seringkali, ruang lingkup teori dan tingkat perkembangan
tidak simetris, dan hanya ada beberapa konsep atau aspek-aspek dari satu teori
terintegrasi ke dalam sebuah teori dominan lainnya. Pengintegrasian ini tidak
boleh keliru, itu sebabnya kami menekankan istilah "lokal/khusus"
dalam nama strategi ini yaitu "mengintegrasikan secara lokal/khusus".
Mensintesis dan
mengintegrasikan memiliki prasyarat dari strategi jaringan lain. Seperti telah
ditekankan dalam Bikner-Ahsbahs dan Prediger (2006), bagian yang berbeda dari
teori-teori yang tidak kompatibel tidak harus disintesis. Terutama ketika inti
teori bertentangan, sangat berbahaya karena adanya filosofis teori yang tidak
konsisten dan koheren.
E. Strategi dan Metode
untuk Jaringan
Perbedaan
antara strategi dan metode jaringan dapat dibandingkan dengan istilah dalam
militer
antara strategi dan taktik: Strategi adalah seperangkat pedoman umum untuk merancang dan
mendukung tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan. Strategi adalah sesuatu yang umum dan stabil, taktik lebih spesifik dan fleksibel. Pertempuran tidak pernah dapat direncanakan oleh strategi sendiri, karena melibatkan banyak tindakan dengan hasil yang terbuka.
antara strategi dan taktik: Strategi adalah seperangkat pedoman umum untuk merancang dan
mendukung tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan. Strategi adalah sesuatu yang umum dan stabil, taktik lebih spesifik dan fleksibel. Pertempuran tidak pernah dapat direncanakan oleh strategi sendiri, karena melibatkan banyak tindakan dengan hasil yang terbuka.
Tindakan yang
harus diputuskan secara real time sesuai dengan strategi yang dipilih tersebut
kemudian dirancang oleh taktik khusus. Demikian pula, strategi jaringan yang
lebih umum memerlukan metode khusus untuk dikembangkan. Bagian ini
menggambarkan metode yang berbeda untuk mengembangkan atau menerapkan strategi jaringan
tertentu.
Strategi
jaringan digunakan untuk menghubungkan teori atau pendekatan teoritis. Strategi
jaringan, metode dan teknik penelitian saling terkait dan saling mendukung.
Pendekatan metode yang berbeda mungkin menggunakan strategi jaringan yang sama,
dan, jika tidak, salah satu pendekatan metode mungkin termasuk dalam strategi
jaringan yang berbeda.
Mengembangkan Teori dengan
Jaringan
Sriraman dan Engish
(2005, egp 453) mengklaim bahwa teori-teori dalam pendidikan matematika harus
dikembangkan lebih lanjut. Tapi apa arti sebenarnya pengembangan teori yang lebih
lanjut? Hal ini bergantung pada karakter teori, karena penjelasan dan pendeskripsian
teori berkembang secara berbeda dari preskriptif teori.
Teori empiris
berkembang dalam siklus proses analisis empiris dan teori konstruksi. Sebagai
contoh, Bikner-Ahsbahs (2005, 2008) memulai pengembangan teori tentang
bunga-padat situasi dengan konseptual pertama komponen dalam konteks teori
latar belakang. Kemudian, analisis data membentuk hipotesis pertama yang
lagi-lagi dapat diuji melalui data analisis. Hipotesis Baru dihasilkan, dan
seterusnya. Dalam siklus antara membangun teori dan analisis empiris dan
pengujian, komponen non-konsisten diurutkan secara sistematis.
Teori tidak
bisa hanya berkembang dalam cara yang berbeda, tetapi juga dalam arah yang
berbeda. Setidaknya ada empat arah penting:
1.
Ketegasan: Mulai dari klaim bahwa suatu teori yang
baik harus membuat latar belakang teori dan filosofi dasarnya (khususnya pengetahuan
dan metodologi) se-eksplisit mungkin. Semakin banyak anggapan implisit dinyatakan
secara eksplisit dan lebih banyak bagian filosofis dasar membentuk teori latar
belakang secara eksplisit, semakin kita akan mempertimbangkan bahwa teori menjadi
lebih dewasa.
2.
Lingkup empiris: teori formal memiliki ruang
lingkup empiris besar. Mereka mengkarakterisasi fenomena empiris secara global
dan sering tidak bisa persis akan diwujudkan melalui contoh-contoh empiris
(Lamnek 1995, hal 123). Di sisi lain, teori yang bersifat khusus dan kontekstual
memiliki lingkup yang terbatas (lihat Krummheuer 2001, hal 199).
3.
Stabilitas: Sebuah teori baru mungkin sedikit
rapuh karena konsep dan hubungan
di antara mereka yang masih samar-samar. Namun, jika teori bersifat substansial maka dia memiliki kelebihan. Kelebihan ini terus dikerjakan oleh meningkatkan aplikasi teori. Jika teori lulus ujian menjadi dapat dipercaya, konsep menjadi lebih jelas, dan stabilitas teori meningkat.
di antara mereka yang masih samar-samar. Namun, jika teori bersifat substansial maka dia memiliki kelebihan. Kelebihan ini terus dikerjakan oleh meningkatkan aplikasi teori. Jika teori lulus ujian menjadi dapat dipercaya, konsep menjadi lebih jelas, dan stabilitas teori meningkat.
4.
Konektivitas: Ilmu ditandai dengan argumentasi dan
keterkaitan. Hal ini misalnya dapat diwujudkan dengan mencari hubungan teori. Oleh
karena itu, membangun konektivitas argumentatif merupakan arah penting untuk
pengembangan teori.
Yandri Soeyono | Berita Pendidikan terkini, termasuk info tentang sertifikasi, kurikulum, dan pembelajaran. Konsultasi Materi dan Pembelajaran Matematika.
at
3:27 PM
Menganalisa Peraturan Pemerintah Tentang
Standar Nasional Pendidikan
Ditinjau Dari Sisi Teori Pembelajaran
A.
Pendahuluan
Tugas ini
bertujuan agar mahasiswa dapat menganalisis Peraturan Pemerintah no. 19 tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan melalui sudut pandang pendekatan atau
metode pembelajaran yang dituntut oleh Pemerintah. Selanjutnya, akan ditinjau
kembali berdasarkan teori pembelajaran yang ada (behaviorisme dan
konstruktivisme).
Mula-mula,
akan dibahas tentang isi dari Standar Nasional Pendidikan, terutama pada bagian
Standar Proses. Tuntutan apa yang diharapkan oleh Pemerintah dalam
mengimplementasikan model atau metode pembelajaran seorang guru di dalam kelas.
Selanjutnya,
dari pemetaan metode dan model belajar tersebut, akan dianalisis, menganut
teori pembelajran yang manakah kurikulum kita? Apakah menganut behaviorisme
atau knstruktivisme? Namun sebelum itu, akan dibahas pula secara umum kedua
teori tersebut, hingga membantu dalam menganalisis SNP.
B.
Standar
Nasional Pendidikan
Untuk
menjamin mutu Pendidikan Nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, maka pemerintah
meetapkan sebuah dasar dan batasan minimal yang disebut Standar Nasional
Pendidikan yang tertuan dalam Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005. Standar
Nasional Pendidikan ini berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan,
dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan Pendidikan Nasional bermutu.
Salah satu
lingkup Standar Pendidikan Nasional adalah Standar Proses. Pada BAB IV PP no.
19 tahun 2005 ini tentang Standar Proses, dijelaskan bahwa :
“Proses
Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta
didik untuk berpartisipasi aktif,
serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan
fisik serta psikologis peserta didik.” (pasal 19 ayat 1)
Terlihat
cukup jelas bagaimana tuntutan
Pemerintah terhadap proses pembelajaran di dalam kelas. Terdapat beberapa kata
kunci yaitu pembelajaran interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi untuk aktif, kesempatan berprakasa, kreatif dan mandiri.
Selanjutnya
juga pada BAB IV PP no. 19 tahun 2005 ini menekankan pada :
“pendidik
memberikan keteladanan dalam proses pembelajaran” (pasal 19 ayat 2)
Dan pada pasal 19 ayat 3 berbunyi :
“Setiap
satuan pendidikan melakukan perencanaan
proses pembelajaran, pelaksanaan
proses pembelajaran, penilaian hasil
pembelajaran, dan pengawasan proses
pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.”
(Pasal 19 ayat 3)
Lebih
jauh diatur dalam Permendiknas no. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses merinci
tentang Perencanaan, Pelaksanaan, Penilaian, dan Pengawasan pembelajaran.
Disebutkan bahwa proses Perencanaan berupa silabus dan RPP yang memuat
kompetensi yang diperlukan untuk dikuasai siswa (Permendiknas no. 22 tahun
2006, Standar Isi).
Proses
Pelaksanaan pembelajaran merupakanimplementasi dari RPP yang di dalamnya
termasuk apersepsi, eksplorasi, elaborasi, dan
konfirmasi.
Proses
Penilaian pembelajaran dilaksanakan untuk mengukur tingkat pencapaian
kompetensi siswa.
Dan
proses Pengawasan berupa pemantauan, supervisi, evaluasi, dan laporan.
C.
Metode,
Model dan Pendekatan
Pengertian Metode Pembelajaran
Metode
pembelajaran merupakan rencana yang sistematis untuk menyampaikan informasi
(Garlach dan Elly, 80:14). Metode dapat juga diartikan sebagai cara yang telah
terpola tetap untuk memperoleh pengetahuan. Karenanya suatu metode bersifat
prosedural, teknis dan implementatif. Beberapa metode yang sering digunakan
dalam pembelajaran adalah : ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi,
eksperimen, laboratorium, penemuan, (discovery atau inquiri), investigasi,
eksplorasi, pemecahan masalah, permainan, matematika di luar kelas, pemberian
tugas (drill atau latihan), bermain peran, dan pembelajaran kooperatif.
Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan
pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang
kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang
terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi,
menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan
teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis
pendekatan, yaitu:
·
pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student
centered approach), dan
·
pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher
centered approach).
Pengertian Model Pembelajaran
Model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan prosodural yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar bagi para siswa untuk
mencapai tujuan pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan
melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Diantara model-model pembelajaran yang
sering diterapkan adalah : model pembelajaran langsung, model pembelajaran
pemecahan masalah, model pembelajaran penemuan, model pembelajaran kooperatif,
model pembelajaran kontekstual atau realistik dan lain sebagainya.
D.
Behaviorisme
Teori belajar behaviorisme adalah sebuah
teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Teori behavioristik dengan model
hubungan stimulus-responnya,
mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau
perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata.
Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan
menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon
(Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan
perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah
input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa
saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau
tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.
Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak
penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur.
Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang
diberikan oleh guru (stimulus) dan
apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini
mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk
melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran
behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan
ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula
bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga
semakin kuat.
Beberapa prinsip dalam
teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment; (2) Primary and Secondary
Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency Management; (5)
Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination of Responses (Gage,
Berliner, 1984).
Program-program
pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram,
modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan
stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement),
merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan
Skiner.
Pandangan
behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi siswa,
walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak
dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman
penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran
berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya.
Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat
diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang
mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.
Teori
behavioristik juga cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen,
tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar
merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa siswa menuju atau
mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas
berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang memengaruhi proses
belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.
E.
Konstruktivisme
Terdapat berbagai pemikiran tentang bentuk konstruktivisme, namun yang
menyatukan beragam bentuk tersebut adalah metaphor (hakikat) dari konstruksi
itu sendiri. Metaphor dari konstruksi yaitu pembangunan struktur dari bagian
yang sudah ada, yang selanjutnya dibentuk menjadi lebih khusus.
Menurut von Glasersfeld (1989: 182): “
pengetahuan tidak diterima secara pasif, namun dibangun oleh subjek yang
mengetahui”. Sehingga dapat dikatakan bahwa “memahami” adalah proses aktif,
secara personal dan berdasarkan pada pengetahuan yang dikonstruksi sebelumnya. Sehingga tidak tepat
jika kurikulum di tentukan oleh pemerintah. Dalam kelas konstruktivis, kurikulum
umumnya proses menggali lebih dalam dan lebih dalam ide-ide besar yang dimiliki
pelajar, daripada menyajikan materi yang umum.
Ernest memfokuskan pada empat konstruktivisme
yang utama, yaitu konstruktivisme biasa, konstruktivisme radikal, enaktivisme
dan konstruktivisme social.
Konstruktivisme biasa dapat diterapkan sebagai
perluasan dari teori belajar neo-behavioristik dan kognitif. Menurut Ausubel
(1969), “Faktor utama yang mempengaruhi belajar adalah apa yang siswa telah
diketahui sebelumnya. Mengetahuinya dan mengajarkanya secara bersamaan”.
Sehingga prinsip utama dari kebanyakan konstruktivisme adalah pengetahuan
sebelumnya dan pemahaman adalah basis bagi pembelajaran selanjutnya. Konstruktivisme
biasa beranggapan bahwa kebenaran representasi dari dunia empiris dan
pengalaman (eksperiental) adalah mungkin.
Prinsip konstruktivisme radikal yaitu "fungsi kognisi bersifat
adaptif dan melayani organisasi dunia pengalaman, bukan penemuan dari realitas
secara ontologis." (Von Glasersfeld 1989: 182). Sehingga, dari seorang
yang kritis tentang “sifat-sifat struktur” dari kenyataan yang yang tak
tersedia, organisme pengalaman kemudian berubah menjadi struktur kognitif yang
akan digunakan untuk menyelesaikan masalah seperti yang organism yakini dan
bayangkan (Von Glasersfeld 1983: 50). Dengan kata lain organism itu sendiri dan
secara keseluruhan mengadaptasi dunia dari pengalaman-pengalaman melalui
adatasi dari skema-skema.
Enactivism didasarkan pada model
hayati; lebih spesifik, kognisi dipandang sebagai proses biologis. Ernest menjelaskan salah satu dari
ide-ide sentral (dari enactivism) adalah dari autopoesis. Autoposes memiliki sistem dinamis kompleks yang spontan yang
memiliki organisasi sendiri, berdasarkan umpan balik dan
pertumbuhan dalam menanggapi umpan balik ini. Individu yang berpengetahuan bukan
hanya seorang pengamat dunia tetapi tubuh tertanam di dunia dan dibentuk baik
kognitif dan sebagai organisme fisik yang utuh oleh interaksinya dengan dunia. “Enaktivisme sebagai teori kognitif
menyadari akan pentingnya konstruksi secara individual dalam dunia, tetapi
menekankan pada perkembangan struktur individu dengan dunia dalam metode dan
syarat untuk meneruskan interaksi antara individu dengan situasi (Reid et al.
2000:1-10).
Dengan mendasarkan pada karya
Vygotsky, konstruktivisme social menghargai tentang pembelajar individu dan
bidang social sebagai hal yang saling terhubung. Manusia terbentuk melalui
interaksi dengan orang lain melalui proses individual mereka. Metafora yang
mendasarinya adalah dialogis atau perbincangan, yang terdiri dari masyarakat
sosial yang tertanam dalam interaksi linguistik dan ekstra-linguistik dan
dialog bermakna (Harre 1989; Ernest 1998).
F.
Kesimpulan
Standar
Nasional Pendidikan
|
Behaviorisme
|
Konstruktivisme
|
Pembelajaran
Interaktif
|
Termasuk
|
Termasuk
|
Pembelajaran
Inspiratif
|
Termasuk
|
Termasuk
|
Pembelajaran
Menyenangkan
|
Agak sulit bisa menyenangkan siswa
karena pembelajaran bersifat teacher
centered.
|
Diharapkan
dengan berbagai model pembelajaran mampu menyenangkan siswa karena student centered
|
Pembelajaran
menantang
|
Tidak
termasuk, karena behaviorisme hanya sekedar transfer pengetahuan
|
Termasuk, karena berusaha membangun
pengetahuan siswa sendiri dari pengetahuan yang ada sebelumnya.
|
Memotivasi
siswa aktif
|
Tidak
termasuk.
|
Termasuk
dan wajib, karena student centered, siswa harus mampu membangun
pengetahuannya sendiri
|
Siswa
berprakarsa
|
Tidak
termasuk
|
Termasuk
|
Siswa
Kreatif
|
Tidak termasuk, behaviorisme
cenderung mengarahkan siswa berpikir linier, konvergen, tidak kreatif
|
Termasuk
|
Siswa
Mandiri
|
Tidak
termasuk
|
Termasuk
|
Guru
sebagai teladan
|
Termasuk
|
Termasuk
|
SK-KD
dari Pemerintah
|
Termasuk
|
Tidak
termasuk
|
Guru melakukan Perencanaan
|
Termasuk, karena berprogram
|
Termasuk
|
Adanya apersepsi
|
Tidak harus
|
Wajib, karena konstruktivisme
belajar dari pengalaman atau pengetahuan sebelumnya yang sudah dipahami.
Sehingga pengetahuannya akan terus berlanjut
|
Adanya eksplorasi
|
Tidak termasuk
|
Termasuk, karena siswa yang akan
membangunpengetahuannya sendiri
|
Adanya elaborasi
|
Tidak termasuk
|
Termasuk, proses konstruksi
|
Adanya konfirmasi
|
Termasuk, karena memuat penguatan
|
termasuk
|
Adanya penilaian (mengukur
kompetensi siswa) baik untuk afektif maupun kognitif.
|
Hanya mengukur hasil akhir
|
Tidak perlu penilaian
|
Adanya pengawasan (pemantauan,
supervisi, evaluasi, dan laporan)
|
Termasuk
|
Tidak termasuk
|
Pendidikan karakter
|
Tidak termasuk
|
Termasuk
|
Dari tabel
di atas, terlihat ada perpaduan antara pendekatan berdasarkan teori
behaviorisme dan konstruktivisme. Namun secara umum, pada proses pembelajaran
di kelas, SNP menuntu agar pembelajaran bersifat student centered (konstruktivisme), karena guru hanya berperan
sebagai fasilitator, mediator, yang akan memberikan situasi kepada siswa untuk
lebih “memaknai” dan “memahami” pengetahuan yang ia dapat dan kemudian
menindak-lanjutinya dengan pengetahuan yang lebih tinggi. Tidak terlepas juga
adanya pendekatan secara emosional (pendidikan karakter) termasuk pada
penilaian proses yang tentunya proses ini juga tidak terdapat pada pendekatan
behaviorisme.
Daftar
Pustaka
1.
Sriraman, Bharath dan
English, Lyn, 2010, Theories of Mathematics Education, London : Springer Heidelberg
Dordrecht
2. Peraturan Pemerintah no. 19 tahun 2005 tentang Standar
nasional Pendidikan
3. Peraturan Pemerintah no. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses
Analisa Standar Nasional Pendidikan
Yandri Soeyono | Berita Pendidikan terkini, termasuk info tentang sertifikasi, kurikulum, dan pembelajaran. Konsultasi Materi dan Pembelajaran Matematika.
at
2:41 PM

